Jumaat, 14 Disember 2012

Bahan Ajar Bindo IX-Ganjil


I.                   Standar Kompetensi             : Mendengarkan
1.      Memahami dialog interaktif pada tayangan televisi / siaran radio.
II.                Kompetensi Dasar                 :
1.1.   Menyimpulkan isi dialog interaktif beberapa narasumber pada tayangan  televisi / siaran radio.
III.             Indikator
1.      Mampu menentukan tema dialog interaktif dari tayangan televisi atau siaran radio.
2.      Mampu mencatat hal-hal penting dalam dialog.
3.      Mampu menyimpulkan dialog interaktif dengan alasan yang logis.
IV.             Bahan Ajar
DIALOG INTERAKTIF
Dialog interaktif merupakan forum yang mendiskusikan masalah aktual dan penting untuk dibahas. Dalam diskusi tersebut pemirsa atau pendengar dapat terlibat secara langsung. Dialog interaktif adalah percakapan yang dilakukan dua orang atau lebih dengan tujuan membahas suatu topik. Informasi dapat diperoleh melalui berbagai cara, baik secara lisan maupun tulisan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan informasi secara lisan yaitu melalui kegiatan menyimak dialog interaktif. Dialog interaktif adalah percakapan yang dilakukan di televisi atau radio yang dapat melibatkan pemirsa dan pendengar melalui telepon. Ada pun narasumber yang dipilih adalah orang tahu yang persis tentang informasi yang ingin disampaikan. Selain itu, dapat memperoleh informasi dengan bertindak sebagai pihak yang pasif, yaitu mendengarkan dengan saksama suatu kegiatan dialog interaktif yang dilakukan oleh orang lain.
Dari kegiatan mendengarkan tersebut dapat mencatat hal-hal penting dan menyimpulkan isi dialog yang didengarkan itu. Sama halnya dengan berita, dalam dialog interaktif juga harus menerapkan prinsip 5W+ 1H berikut ini.
  1. What   : apa yang didialogkan
  2. Who    : siapa yang berdialog
  3. When   : kapan dialog dilakukan
  4. Where  : di mana dialog dilakukan
  5. Why    : mengapa dialog dilakukan
  6. How    : bagaimana hasil dialog tersebut
V.                Sumber
1.      Radio, Televisi
2.      Buku Paket: Berbahasa dan Bersastra Indonesia kelas IX Semester I. Penerbit: Pusat Perbukuan DEPDIKNAS.       
VI.             Penilaian
Teknik
Bentuk
Instrumen/Soal
Tes Unjuk Kerja
Uji Petik Kerja Prosedur dan produk
1.      Tuliskan hal-hal penting yang ada dalam dialog interaktif tersebut !
Tes Unjuk Kerja
Uji Petik Kerja Prosedur dan produk
2.      Tuliskan informasi yang terdapat dalam dialog interaktif !
Tes Unjuk Kerja
Uji Petik Kerja Prosedur dan produk
3.      Tuliskan kesimpulan setelahh mendengrkan dialog interaktif tersebut !
4.      Tuliskan komentarmu terhadap pendapat para narasumber dalam dialog

Pedoman Penilaian:
      1. Tuliskan hal-hal penting yang ada dalam dialog interaktif tersebut !
Kegiatan
Skor
Siswa menulis hal-hal penting dengan lengkap
2
Siswa menulis sebagian saja bagian penting dalam dialog
1
Siswa tidak dapat menuliskan sama sekali
0

      2.   Tuliskan informasi yang terdapat dalam dialog interaktif !
Deskriptor
1
2
3
4
Penyusunan struktur kalimat




Ketepatan penggunaan bahasa





      3. Tuliskan kesimpulan setelahh mendengrkan dialog interaktif tersebut !
Deskriptor
1
2
3
4
Ketepatan merumuskan kesimpulan




Kelogisan penulisan kesimpulan




Ketepatan penggunaan bahasa





      4. Tuliskan komentarmu terhadap pendapat para narasumber dalam dialog
Deskriptor
1
2
3
4
Ketepatan merumuskan komentar




Kelogisan penulisan komentar




Ketepatan penggunaan bahasa





      Skor maksimal       :
      No. 1         : 2
      No. 2         : 8
      No. 3         : 12
      No. 4         : 12
                          34
Perhitungan nilai akhir dalam skala 0-100 adalah sebagai berikut:
Nilai akhir :                                Skor ideal 100% = …..

















I.                   Standar Kompetensi             : Mendengarkan
1.      Memahami dialog interaktif pada tayangan televisi / siaran radio.
II.                Kompetensi Dasar                 :
1.2. Mengomentari pendapat narasumber dalam dialog interaktif pada tayangan televisi / siaran radio.
III.             Indikator
1.      Mampu menanggapi  siaran atau informasi isi  dialog interaktif pada tayangan televisi/siaran radio.
2.      Mampu menyampaikan informasi yang tersirat dalam dialog interaktif.
3.      Mampu mengomentari pendapat masing-masing narasumber dengan alas an yang meyakinkan.
IV.             Bahan Ajar
Mengomentari Pendapat Narasumber
Hal yang diperhatikan ketika mengikuti dialog interaktif adalah mencatat hal-hal penting isi dialog, dan menyimpulkan isinya. Dalam mendengarkan dialog interaktif banyak informasi tersirat yang disampaikan narasumber dalam dialog. Tak jarang informasi tersirat itu justru menjadi salah satu informasi penting yang harus dicatat. Untuk itulah untuk menemukan informasi tersirat dalam dialog maka dilanjutkan dengan memberikan komentar terhadap informasi yang disampaikan narasuber.
Menyatakan Informasi Tersirat dalam Dialog Interaktif
Pendapat narasumber dalam dialog ada kalanya berupa informasi tersirat. Informasi tersirat adalah informasi yang tersembunyi dibalik informasi lain. Informasi tersirat merupakan informasi yang secara implisit terkandung dalam sebuah informasi tertentu. Pendengar atau pemirsa dapat menemukan sendiri informasi tersirat itu dengan menganalisis informasi tersurat. Simak baik-baik dialog interkatif yang akan diperdengarkan oleh Bapak atau Ibu guru. Simakan dialog juga dapat dilakukan dengan memerankan transkrip dialog interaktif yang ada.
Contoh :
Wawancara Oman Sukmana dari Tempo Interaktif dengan Menteri pendayagunaan Aparatur Negara Freddy Numberi di Kantornya, di Jalan Sudirman, Jakarta, seputar masalah Irian Jaya atau Papua.
Bagaimana Anda melihat hasil Kongres Rakyat Papua yang menuntut Papua merdeka itu?
Saya melihat ini semua masih dalam taraf aspirasi, masih dapat dilakukan upaya-upaya melalui dialog. Memang, aspirasi ini harus kita waspadai, karena bisa menjadi preseden buruk bagi keutuhan wilayah kita. Saat ini kami sedang berupaya melakukan upaya pendekatan secara persuasif melalui dialog.
Kapan dialog itu dilaksanakan?
Saya belum tahu; mungkin itu kewenangan Menteri Dalam Negeri. Tapi, melihat situasi saat ini tentunya hal itu akan dilakukan secepat mungkin, paling tidak sebelum tanggal 1 Desember, batas waktu yang diberikan oleh Kongres Papua kepada pemerintah, kami sudah mengambil langkah konkret menyelesaikan masalah Papua.
Menurut Anda apa yang melatarbelakangi adanya tuntutan merdeka ini?
Semua ini terjadi karena kebijakan yang salah dari rezim yang lalu. Misalnya, pembangunan yang tidak menyentuh masyarakat, rakyat merasa diperlakukan tidak adi. Pemerintah masa lalu tidak jeli melihat bahwa suatu saat Papua ini bisa bergejolak. Nah, repotnya, hal itu terjadi sekarang, (hingga) kabinet sekarang ini tak ubahnya pemadam kebakaran.
Sebenarnya, apa kebutuhan rakyat Papua sekarang?
Rakyat Papua itu butuh kesejahteraan; mereka bosan terus-menerus diperlakukan seperti sapi perah. Mereka juga sudah bosan melihat kekerasan militer. Yang mereka butuhkan saat ini adalah kesejahteraan. Misalnya, mengupayakan agar SPP untuk SD hingga SMU di Papua dibebaskan. Saya kira tidak banyak anggaran untuk itu, hanya Rp 20 miliar untuk Papua yang telah memberikan sumbangan devisa yang besar bagi bangsa ini. Juga pengangkatan guru yang saat ini jumlahnya masih kurang, dan memberi kesempatan kepada guru yang sudah ada untuk menjadi pegawai negeri. Lalu, membuka pendidikan kedokteran, karena jumlah dokter di Papua masih kurang. Dulu, di zaman Bung Karno, dekat setelah Irian kembali ke pangkuan ibu pertiwi, lebih dari 2.000 putra daerah disekolahkan ke luar negeri, meski kondisi bangsa masih sulit, Setelah itu, putra daerah Irian tidak lagi diperhatikan oleh pemerintah. Ini yang membuat mereka sakit hati.
Berapa devisa yang dihasilkan oleh Papua?
Papua itu dalam setahun bisa menghasilkan devisa Rp 10 triliun. Sebenarnya wajar kalau paling tidak 40% atau Rp 4 triliun dari hasil itu dikembalikan kepada Papua untuk kesejahteraan rakyat. Sekarang, alokasi dana untuk Papua hanya Rp 1,2 triliun, dan ketika saya menjabat Gubernur dana yang saya peroleh cuma Rp 650 miliar. Dengan dana sebesar itu, praktis, kami tidak dapat membangun.

V.                Sumber
1.      Dialog Interaktif Metro TV,  Jumat, 11 Juli 2008 pukul 20.17
  1. Buku Paket: Berbahasa dan Bersastra Indonesia kelas IX Semester I. Penerbit: Pusat Perbukuan DEPDIKNAS.
VI.             Penilaian
Teknik
Bentuk
Instrumen/Soal
Tes Unjuk Kerja
Uji Petik Kerja Prosedur dan produk
1. Tuliskan hal-hal penting yang ada dalam dialog interaktif tersebut

Tes Unjuk Kerja
Uji Petik Kerja Prosedur dan produk
2. Tuliskan informasi yng terdapat dalam dialog interaktif !

Tes Unjuk Kerja
Uji Petik Kerja Prosedur dan produk
3. Tuliskan kesimpulan setelah mendengarkan dialog interaktif tersebut !


Tes Unjuk Kerja
Uji Petik Kerja Prosedur dan produk
4. Tuliskan komentarmu terhadap pendapat para narasumber dalam dialog

Pedoman Penilaian:
            1. Tuliskan hal-hal penting yang ada dalam dialog interaktif tersebut !
Kegiatan
Skor
Siswa menulis hal-hal penting dengan lengkap
2
Siswa menulis sebagian saja bagian penting dalam dialog
1
Siswa tidak dapat menuliskan sama sekali
0

            2.Tuliskan informasi yang terdapat dalam dialog interaktif !
Deskriptor
1
2
3
4
Penyusunan struktur kalimat




Ketepatan penggunaan bahasa





            3. Tuliskan kesimpulan setelah mendengrkan dialog interaktif tersebut !
Deskriptor
1
2
3
4
Ketepatan merumuskan kesimpulan




Kelogisan penulisan kesimpulan




Ketepatan penggunaan bahasa






            4. Tuliskan komentarmu terhadap pendapat para narasumber dalam dialog
Deskriptor
1
2
3
4
Ketepatan merumuskan komentar




Kelogisan penulisan komentar




Ketepatan penggunaan bahasa




Skor maksimal :
            No. 1   : 2
            No. 2   : 8
            No. 3   : 12
            No. 4   : 12
                           34
Perhitungan nilai akhir dalam skala 0-100 adalah sebagai berikut:
Nilai akhir :                                Skor ideal 100% = …..

















I.                   Standar Kompetensi             : Membaca
2.      Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca memindai.
II.                Kompetensi Dasar                 :
2.1.Membedakan antara fakta dan opini dalam teks iklan di surat kabar melalui kegiatan membaca intensif.
III.             Indikator
1.      Mampu mendata fakta yang ada dalam teks.
2.      Mampu mendata opini yang ada dalam teks.
3.      Mampu membedakan fakta dan opini.
IV.             Bahan Ajar
Fakta dan Opini dalam Teks Iklan
Iklan adalah berita pesanan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan. Iklan juga dapat diartikan pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang atau jasa yang dijual, dipasang di dalam media massa seperti surat kabar dan majalah atau di tempat-tempat umum. Ada bermacam-macam jenis iklan, misalnya iklan baris, iklan kolom, dan iklan keluarga.
Iklan dapat kita temukan di media cetak (koran majalah, buletin) maupun di media elektronika (radio televisi). Hampir semua koran atau majalah menyediakan ruang untuk memuat iklan. Setiap hari ada saja orang, lembaga, atau perusahaan yang memasang iklan untuk berbagai keperluan. Dengan demikian setiap hari kita akan dapat menemukan informasi baru berupa penawaran produk, jasa, lowongan kerja atau informasi yang lain dalam kolom iklan.
Hal ini sebagai indikator bahwa komunikasi antara pemasang iklan dengan pelanggan atau dengan pembaca dapat dijalin melalui media iklan. Oleh sebab itulah dalam pembelajaran berikut ini kamu akan diajak untuk mencermati fakta dan opini yang terdapat dalam iklan.

Menemukan Fakta dan Opini yang Terdapat dalam Teks Iklan
Contoh :
RUMAH DIJUAL-BODETABEK
Dijual Cepat Rumah type 48/90 di perumahan Kota Wisata – Cluster
Montreal Blok YA 15 No 15. Bebas Banjir, Kondisi standard dan bagus.
Harga 220 jt nego. Hubungi (021) 82482136, 081288731588 (Farah)
Dalam teks iklan di atas terdapat informasi yang berupa fakta dan berupa opini. Dikatakan sebagai fakta apabila informasi itu berupa sesuatu yang benar-benar ada, benar-benar terjadi atau memang kenyataannya seperti itu. Selain itu kebenaran informasi yang berupa fakta tidak diragukan lagi. Fakta merupakan sesuatu yang sudah terjadi.
Sebaliknya sesuatu dikatakan opini atau pendapat apabila informasi dalam iklan itu merupakan ide, gagasan, pendapat, pemikiran atau penawaran untuk mempengaruhi pembaca.
Dalam iklan 1 dapat kita temukan fakta sebagai berikut:
a.       tipe rumah yang dijual 48/90
b.      terletak di perumahan Kota Wisata – cluster Montreal Blok YA 15 nomor 15,
c.       nomor telepon (021) 82482136, 081288731588.
Informasi yang berupa opini adalah:
a.       menurut pemasang iklan lokasi perumahan itu bebas banjir (ide pemasang iklan untuk memengaruhi pembeli).
b.      kondisi standar dan masih bagus (ukuran standar dan bagus tidak jelas, kebenarannya perlu dibuktikan)
ditawarkan dengan harga 220 juta nego (pemikiran).

V.                Sumber
1.      Surat Kabar Kompas, 3 Maret 2007
2.      Buku Paket: Berbahasa dan Bersastra Indonesia kelas IX Semester I. Penerbit: Pusat Perbukuan DEPDIKNAS
VI.             Penilaian
Teknik
Bentuk
Instrumen/Soal
Penugasan
Tugas
1.      Tulislah minimal empat pernyataan yang berupa fakta dan pendapat !


2.      Tulislah minimal empat pernyataan yang berupa fakta dan pendapat !


3.      Bedakan apa yang dimaksud fakta dan opini





Pedoman penilaian:
Tulislah minimal empat pernyataan yang berupa fakta dan pendapat !
Kegiatan
Skor
1. Siswa menulis 4 atau lebih fakta dan opini
2
2. Siswa menulis 1 – 2 fakta dan opini
1
3. Siswa tidak menulis apa-apa
0

Bedakan apa yang dimaksud fakta dan opini
Kegiatan
Skor
1. Siswa dapat membedakan
1
2. Siswa tidak dapat membedakan
0

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0-100 adalah sebagai berikut:
Nilai akhir :                                Skor ideal 100% = …..



















I.                   Standar Kompetensi             : Membaca
2.Memahami  ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca  memindai.
II.        Kompetensi Dasar                 :
2.2.Menemukan informasi yang diperlukan secara cepat dan tepat dari indeks  buku melalui kegiatan membaca mimindai.
II.                Indikator
1.      Mampu menemukan kata dalam buku yang dirujuk dalam indeks.
2.      Mampu menemukan informasi dengan paduan indeks
3.      Mampu menemukan informasi yang diperlukan secara cepat dan tepat dari indeks buku.
III.             Bahan Ajar
Membaca Indeks Buku
INDEKS
A
Abernathy, Rob. 137
afirmasi: poster, 69; dampak, 28-30
alami : definisi, 10; mempraktikkan,90
alat bantu, 70
alfa, Keadaan, 173-175
Allen, Carole, 48,53
apologi empat-bagian, 203-204
B
Bandler, Richard, 4, 84
Bandura, Albert, 20
barok, musik, 73-75
belajar: pemercepatan, 5;
bercerita, 187-188
berpikir linguistik-verbal, 97
C
Cain, Geoggrrey, 156
Catatan Cornell, 178
catatan: TS, 178-180
Csikszentmihalyi,Mihaly, 23
D
Damasio, Antonio, 151-176
delapan Kunci Keunggulan: Definisi, 47-52
demonstrasikan : definisi, 10
Dilts, Robert, 68
Driscoll,Mary, 47

Sepintas, seolah-olah halaman akhir sebuah buku seperti contoh di atas tak memiliki kegunaan. Indeks tampaknya hanya berupa deretan kata atau istilah atau nama tokoh yang diikuti angka-angka. Namun demikian, ternyata halaman tersebut cukup membantu manakala kita butuh mengetahui sebuah definisi, penggunaan istilah atau nama tokoh dalam sebuah buku. Halaman itu disebut halaman indeks.
Bagaimana menggunakan halaman indeks secara efektif? Teknik membaca untuk memanfaatkan halaman indeks mirip dengan penggunaan kamus, buku telepon, dan sebagainya. Keterampilan yang dibutuhkan untuk menunjang penggunaan buku indeks adalah keterampilan membaca memindai. Teknik  membaca memindai akan memudahkan kalian dalam mencari makna kata. Dengan membaca memindai waktu yang digunakan lebih efisien. Dalam membaca memindai pembaca langsung menuju pada kata, istilah, dan nama yang ingin dicari pada teks. Jadi, membaca memindai dilakukan dengan sekilas dan cepat tetapi teliti dengan maksud menemukan dan memperoleh informasi tertentu atau fakta khusus dari sebuah bacaan (Tarigan, 1994:31).
Berikut ini disajikan sebuah daftar indeks. Guru akan menyebutkan kata atau istilah tertentu. Carilah pada buku indeks dengan cara memindai. Jika sudah menemukan, tuliskan nomor halaman dari kata, istilah atau nama yang disebutkan!
INDEKS
P
pembenaran, 198
pemercepatan pembelajar, 5
pemikiran kinestetik badan, 98
pemikiran spasial-visual, 97
pemimpin, 130-131
pemotongan, 149
penambatan, 133-138
pendengar, 150-151
penemu, 129-130
pengambilan resiko, 34-36
Q
quantum learning, 4, 164
quantum reader, tujuan, 184
quantum reading, 182-185
quantum teacher, 115
quantum teaching: Asas, 84
quantum, definisi, 5
R
Ragland, Marilyn, 57
rancangan:definisi, 15
rasa saling memiliki, 36-38
Raucsher, Frances H., 74
rayakan:bentuk, 31
Rose, Colin, 74, 165
S
Snyder, Steve, 174
spesifik, 122-123
stasiun kecerdasan, 99-100
strategi mengulang, 150
suasana hati, 14
sugesti, 103-104
super star, 165

IV.             Sumber
1.      Halaman Indeks Quantum Teaching, Bobi de Potter
2.      Buku Paket: Berbahasa dan Bersastra Indonesia kelas IX Semester I. Penerbit: Pusat Perbukuan DEPDIKNAS.       
V.                Penilaian
1.      Teknik penilaian individu
2.      Instrumen



Pedoman Penilaian:
  1. Kegiatan memindai
Kegiatan
Skor
1.      Siswa memahami indeks
2.      Siswa mampu membaca indeks secara cepat
3.      Siswa mampu membaca indeks secara tepat
4.      Siswa menulis info secara tepat
5.      Siswa menulis info secara cepat
10
10
10
10
10

Pedoman Penskoran:
  1. Menjawab pertanyaan/melihat data indeks
Kegiatan
Skor
Temukan :
  1. Pengambilan resiko
  2. Apologi empat bagian
  3. Catatan Cornell
  4. Sugesti
  5. Quantum teaching

10
10
10
10
10

            Skor maksimal :
            No. 1   : 50
            No. 2   : 50
            Jumlah : 100

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0-100 adalah sebagai berikut:
Nilai akhir :                                Skor ideal 100% = …..







I.                   Standar Kompetensi             : Berbicara
3.Mengungkapkan kembali cerpen dan puisi dalam bentuk lain.
II.        Kompetensi Dasar                 :
3.1.Menceritakan kembali secara lisan isi cerpen.
III.             Indikator
1.      Mampu menentukan bagian-bagian cerita dengan bantuan tahap-tahap dalam alur.
2.      Mampu menceritakan kembali secara lisan isi cerpen sesuai dengan alur ceritanya.
3.      Mampu menceritakan kembali cerita pendek secara lisan dengan menggunakan bahasa sendiri
4.      Mampu menceritakan kembali secara lisan isi cerpen sesuai dengan tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita pendek.
IV.             Bahan Ajar
Menceritakan Kembali Secara Lisan Isi Cerpen
Cerpen sebagai salah satu hasil karya sastra memiliki unsure intrinsik dan ekstrinsik yang terkandung di dalamnya. Unsur intrinsic merupakan unsur yang membangun karya sastra yang berasal atau terdapat dalam karya sastra itu sendiri. Unsur intrinsik karya sastra meliputi tema, amanat, alur, latar, penokohan, sudut pandang, serta gaya bahasa. Adapun unsur ekstrinsik merupakan unsur pembentuk karya sastra yang berasal dari luar karya sastra. Unsur ekstrinsik meliputi latar belakang budaya dan pendidikan pengarang, adat istiadat daerah, dan sebagainya.
Kedua unsur ini bergabung menjadi satu dalam membangun sebuah cerpen. Dalam menceritakan kembali secara lisan isi cerpen yang pernah kalian baca atau kalian dengarkan, diperlukan kejelian dan kecermatan terhadap urutan dan motif peristiwa yang terdapat pada cerpen. Dengan cara pengamatan demikian, secara cepat kalian akan mengetahui tokoh yang terlibat, serta latar tempat, waktu, dan suasana yang melatarbelakangi peristiwa tersebut. Selain itu, kalian juga akan mendapat sedikit gambaran tentang tema dan amanat yang hendak disampaikan penulis atau pengarang melalui karyanya tersebut.
Setelah memahami cerpen maka dengan mudah dapat menceritakan kembali isi cerpen yang dibaca tersebut dengan gaya bahasa dan pemahaman sendiri. Dalam penceritaan kembali, tidak boleh menyimpang atau menyalahi alur kronologis (urutan jalan cerita) cerpen itu. Dengan kata lain, inti cerita cerpen yang diceritakan tetap mengacu pada cerpen aslinya, tetapi cara penyampaiannya dapat berbeda sesuai dengan karakter dan gaya masing-masing.
Sebelum menceritakan kembali cerpen, harus memahami isi cerita tersebut. Dalam hal ini, harus memahami ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam cerpen agar kalian memahami isi cerpen secara utuh. Selain menceritakan kembali sebuah cerpen, harus dapat mengungkapkan hal-hal yang menjadi kelebihan dalam cerpen. Beberapa hal yang menjadi kelebihan dari cerpen yang dapat diungkapkan, di antaranya berikut.
1.      Gaya bahasa yang digunakan sederhana dan mudah dipahami, tapi terangkai dari diksi yang bermakna sehingga menjadi kalimat-kalimat yang menarik.
2.      Jalan ceritanya mudah dipahami dan tidak berbelit-belit.
Berikut ini akan dibahas tahap demi tahap sehingga mampu menceritakan kembali secara lisan isi cerpen.
1.      Membaca Cerpen dan Mengapresiasikannya
Bacalah cerpen berikut ini dengan cermat! Ikutilah kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf dengan penghayatan sungguh-sungguh. Rasakan suasana batin tokoh yang terlibat di dalamnya. Bayangkan dan rasakan suasana latar cerita. Ikuti jalinan cerita dari peristiwa satu ke peristiwa lainnya. Pendek kata, lakukan kegiatan apresiasi sastra!
2.      Menceritakan Kembali secara Lisan Isi Cerpen
Setelah kamu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan baik, kamu tentu makin menghayati isi cerpen tersebut. Agar kamu dapat menceritakan kembali isi cerpen dengan baik, kamu dituntut mampu menyusun kerangka pokok cerita yang terdapat dalam cerpen tersebut. Kerangka itu dapat dipakai sebagai panduan agar kamu dapat menceritakan kembali isi cerpen secara runtut.
V.                Sumber pembelajaran
1.      Surat Kabar KOMPAS
2.      Buku Paket: Berbahasa dan Bersastra Indonesia kelas IX Semester I. Penerbit: Pusat Perbukuan DEPDIKNAS.
3.      Tarigan, HG.1990.Membaca Sastra. Jakarta: Erlangga.
VI.             Penilaian
Teknik
Bentuk
Instrumen/Soal
Penugasan
Tugas tes uraian
Bacalah cerpen yang diberikan kemudian ceritakan kemabali sesuai dengan alurnya!




Pedoman penilaian:
Aspek yang Dinilai
Skor
1. Isi cerpen sesuai dengan alur aslinya
30
2. Isi cerpen kurang sesuai dengan alur aslinya
20
3. Isi cerpen tidak sesuai dengan alur aslinya
10

Skor Maksimum :
Jumlah 50 x 2 = 100
Perhitungan nilai akhir dalam skala 0-100 adalah sebagai berikut:
Nilai akhir :                                Skor ideal 100% = …..

























I.                   Standar Kompetensi             : Berbicara
3.Mengungkapkan kembali cerpen dan puisi dalam bentuk lain.
II.        Kompetensi Dasar                 :
3.2.Menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi dengan berpedoman  pada kesesuaian isi puisi dan suasana / irama yang dibangun.
III.       Indikator
1.      Mampu menentukan suasana puisi.
2.      Mampu menghubungkan suasana puisi dengan irama musikalisasi puisi.
3.      Mampu menyanyikan puisi yang sudah dimusikalisasi dengan berpedoman pada kesesuaian isi puisi dan suasana / irama yang dibangun.
4.      Mampu memahami isi puisi dengan irama musikalisasi puisi.
IV.       Bahan Ajar
Musikalisasi Puisi
TUHAN
Tuhan,       
Tuhan Yang Maha Esa
Tempat aku meminta
Dengan segala doa
Tuhan
Tempat aku berteduh
Di mana aku mengeluh
Dengan segala keluh
Aku jauh Engkau jauh
Aku dekat Engkau dekat
Hati adalah cermin
Tempat pahala dan dosa berpadu.
(Taufik Ismail)

Puisi di atas dapat dinyanyikan oleh kelompok musik Bimbo yang memopulerkan lagu tersebut. Kegiatan yang dapat digolongkan ke dalam musikalisasi puisi ada dua jenis.
1.      Pembacaan puisi dengan iringan musik.
2.      Pemberian titi nada atau tangga nada pada baris-baris puisi sehingga puisi tersebut dapat dinyayikan.
Kedua jenis kegiatan tersebut cukup populer di Indonesia. Namun, untuk memberi titi nada pada baris-baris puisi belum banyak dilakukan orang. Beberapa nama penyanyi seperti Ebiet G. Ade, Franky Sahilatua, dan Bimbo merupakan penyanyi yang terkenal. Syair lagunya puitis, dan kental dengan makna. lagu yang mereka nyanyikan betul-betul layak disebut puisi.
Kita lihat lagi lagu berjudul Tuhan di atas. Puisi yang ditulis oleh Taufiq Ismail, penyair Angkatan ’66 itu ternyata lebih populer sebagai lagunya Bimbo.
Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyanyikan musikalisasi puisi
1.      Pemilihan materi puisi
Pilihlah puisi yang memiliki panjang baris sama atau hampir sama. Pertimbangkan permainan kata yang berupa rima dan irama yang indah dalam puisi tersebut.
Contoh :
Tuhan
TuhanYang Maha Esa
Tempat aku meminta
Dengan segala doa
2.      Pemilihan nada yang sesuai
Untaian nada pada sebuah lagu akan memberikan efek suasana bagi yang menikmatinya. Selain itu, irama dalam menyanyikan lagu tersebut juga memiliki andil dalam membentuk suasana lagu. Bandingkan saja antara lagu Maju Tak Gentar dan Halo Bandung dengan lagu Syukur dan Mengheningkan Cipta. Hal yang perlu diperhatikan untuk membuat lagu tersebut memiliki suasana yang berbeda adalah nada dan irama.
V.                Sumber pembelajaran
1.      Surat Kabar KOMPAS
2.      Buku Paket: Berbahasa dan Bersastra Indonesia kelas IX Semester I. Penerbit: Pusat Perbukuan DEPDIKNAS.
3.      Waluyo, Herman J. 2000. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia.
VI.             Penilaian
            a. Teknik                                             : Tes untuk kerja                                               
            b. Bentuk instrument                          : Uji petik kerja prosedur dan produk
            c. Soal instrument                               :
                1. Tentukan suasana puisi
                2. Hubungan suasana puisi dengan irama musikalisasi
                3. Lakukan musikalisasi yang sesuai dengan lagu yang dipilih
Pedoman Penilaian:
No
Aspek
Indikator
Ya
Tidak
1
Suasana puisi
Apakah suasana puisi itu sesuai


2
Hubungan antara suasana dengan irama
Adkah hubungan antaraa suasana dengan i\rama musikalisasi


            Skor Maksimal :
            No. 1   =  20
            No. 2   = 30
            No. 3   = 50
            Jumlah =100

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0-100 adalah sebagai berikut:
Nilai akhir :                                Skor ideal 100% = …..


















I.                   Standar Kompetensi             : Menulis
4.      Mengungkapkan kembali pikiran, perasaan dan pengalaman dalam cerita pendek.
II.                Kompetensi Dasar                 :
4.1. Menulis kembali dengan kalimat sendiri cerita pendek yang pernah dibaca.
III.             Indikator
1.      Mampu menentukan ide-ide pokok sesuai tahap-tahap alur dalam  cerpen.
2.      Mampu menemukani isi cerpen dengan memperhatikan unsur tema, latar dan penokohan.
3.      Mengubah isi cerpen dalam bahasa sendiri dengan memperhatikan unsur tema, latar dan penokohan.
4.      Siswa mampu mengungkapkan kembali pikiran, perasaan dan pengalaman dalam cerita pendek.
IV.             Bahan Ajar
Menuliskan Kembali Cerita Pendek Yang Pernah Dibaca
Cerpen dapat dengan mudah kita jumpai di koran, majalah, atau buku-buku kumpulan cerpen. Cerpen adalah cerita yang selesai dibaca dalam waktu yang singkat. Ciri-ciri cerpen antara lain:
1.      singkat, padu dan ringkas,
2.      memiliki unsur utama berupa adegan, tokoh, dan gerakan,
3.      bahasanya tajam, sugestif dan menarik perhatian,
4.      memberikan efek tunggal dalam pikiran pembaca.
Cerpen merupakan karya sastra yang sering ditulis akhir-akhir ini. Cerpen paling luwes disajikan di koran atau majalah, maupun buku-buku kumpulan cerpen. Itulah sebabnya cerpen makin populer di kalangan masyarakat. Terlebih dengan adanya seni pembacaan cerpen yang dikemas dengan baik sehingga lebih memopulerkan cerpen. Bertolak dari kenyataan inilah maka harus mampu menceritakan kembali isi cerpen yang pernah dibaca dengan kalimat-kalimat sendiri. Keterampilan ini akan mengantarkan kamu untuk terampil menulis cerpen.
Banyak manfaat yang dapat kamu peroleh setelah membaca cerpen. Kamu dapat menangkap kehidupan yang dialami tokoh dalam cerita dan ikut merasakannya sehingga dapat dijadikan pengalaman hidup yang berarti. Jika kamu akan meningkatkan kemampuan menulis, kamu dapat berlatih menuliskan kembali isi cerpen yang telah kamu baca dengan kalimat sendiri.
Menceritakan kembali isi cerpen dengan kalimat saendiri merupakan langkah awal untuk berlatih menulis kreatif. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menuliskan kembali isi cerpen yang dibaca, di antaranya adalah
1.      pencerita (kamu) berposisi sebagai orang ketiga,
2.      cerita tersebut sesuai dengan isi cerpen jangan menambah dengan idemu sendiri,
3.      cerita sesuai dengan alur/urutan peristiwa cerpen yang kamu baca, dan
4.      kalimat hendaknya yang runtut dan mudah dipahami oleh orang lain. Perhatikan contoh berikut.
Imung seorang anak berbadan kurus dan korengan. Ia bersahabat dengan Pak Jayus, sopir seorang kolonel polisi bernama Suyatman. Pak Jayus juga seorang ketua RT yang aktif membimbing remaja. Melalui persahabatan dengan Pak Jayus, Imung memperlihatkan kecerdasannya dan dapat berperan di lingkungan kepolisian.
Setelah membayangkan isi cerita pendek yang telah dibaca maka dapat dengan mudah untuk menuliskan kembali cerita pendek tersebut dengan kalimat sendiri. Hal yang juga perlu diperhatikan dalam menuliskan kembali cerita pendek dengan kalimat sendiri adalah alur. Setelah membaca cerita pendek, dengan menentukan ide-ide pokok sesuai tahap-tahap alur cerita pendek maka dengan mudah untuk menuliskan cerita pendek dengan kalimat sendiri. Tahapan alur dalam cerita pendek meliputi perkenalan, pertikaian, klimaks, peleraian, dan penyelesaian. Berikut ini akan dibahas tahap-tahap dalam menuliskan kembali cerita pendek yang telah dibacakan.
1.      Menemukan Unsur Intrinsik Cerpen
Unsur instrinsik adalah unsur-unsur yang terdapat dalam cerpen itu sendiri. Unsur intrinsik cerpen meliputi tema, tokoh, penokohan, latar, alur, serta pesan atau amanat.
2.      Mencatat Rangkaian Peristiwa dalam Cerpen
Membuka ingatan sejenak tentang cerpen yang pernah dibaca. Setelah ingatan tentang isi cerpen terbuka kembali, tuliskan rangkaian peristiwa yang terdapat dalam cerpen tersebut. Rangkaian peristiwa yang menjalin plot atau alur cerita biasanya meliputi :
a.       eksposisi atau paparan awal cerita
b.      munculnya permasalahan
c.       meningkatnya konflik dalam cerita
d.      konflik yang makin kompleks
e.       puncak konflik atau klimaks
f.       penyelesaian cerita

3.      Memulai Menulis Cerita Pendek dengan Kalimat Sendiri
Menuliskan kembali dengan kalimat-kalimat sendiri isi cerpen. Dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
4.      Menggabungkan Kalimat untuk Menyatakan Perbandingan
Dalam menulis karangan, kita sering menggunakan kalimat yang panjang. Kalimat-kalimat yang panjang itu dapat berupa penggabungan dua kalimat atau lebih. Penggabungan dua kalimat atau lebih dapat digunakan untuk menyatakan perbandingan atau sebab akibat. Berikut ini akan dibahas penggabungan kalimat untuk menyatakan perbandingan dalam menulis kembali cerpen yang pernah dibaca.
Perhatikan contoh :
a.       Daripada melamun, Aisyah membaca buku.
b.      Ia sangat kebingungan seperti ayam kehilangan induk.
c.       Ia tidak memiliki pendirian yang tetap, ibarat air di atas daun talas.
d.      Toni selalu berhati-hati dalam bertindak sebagaimana ayahnya yang selalu mempertimbangkan segala tindakan yang akan dilakukannya.
Kata sambung yang digunakan untuk menggabungkan kalimat yang isinya menyatakan perbandingan antara lain daripada, seperti, ibarat, dan sebagaimana.
V.                Sumber
  1. Surat Kabar KOMPAS
  2. Buku Paket: Berbahasa dan Bersastra Indonesia kelas IX Semester I. Penerbit: Pusat Perbukuan DEPDIKNAS.

VI.             Penilaian
Teknik
Bentuk
Instrumen/Soal
Individu
Uraian
1.      Tuliskan ide pokok pada cerpen yang diberikan!
Individu
Uraian
2.      Kembangkanmlah ide pokok itu menjadi cerpen dengan kalimatmu sendiri!
Tes tertulis

3.      Suntinglah cerpen yang dibuat temanmu





Pedoman Penilaian:
1
Unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik
Tepat
Kurang tepat
Tidak tepat

Tema
Amanat
Alur
Perwatakan
Latar/setting
3
3
3
3
3
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0-100 adalah sebagai berikut:

Nilai akhir :                                Skor ideal 100% = …..






















I.                   Standar Kompetensi             : Menulis
4.Mengungkapkan kembali pikiran, perasaan dan pengalaman dalam cerita pendek.
II.                Kompetensi Dasar                 :
4.2. Menulis cerita pendek bertolak dari peristiwa yang pernah dialami.
III.             Indikator
1.      Mampu mendata peristiwa yang pernah dialami.
2.      Mampu menentukan konflik peristiwa yang pernah dialami.
3.      Mampu menentukan alur cerpen.
4.      Mampu menulis cerita pendek bertolak dari peristiwa yang pernah dialami.
IV.             Materi pembelajaran
Menulis Cerita Pendek
Cerita pendek atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan short story, merupakan satu karya sastra yang sering kita jumpai di berbagai media massa. Namun demikian apa sebenarnya dan bagaimana ciri-ciri cerita pendek itu, banyak yang masih memahaminya. Cerita pendek apabila diuraikan menurut kata yang membentuknya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut : cerita artinya tuturan yang membentang bagaimana terjadinya suatu hal, sedangkan pendek berarti kisah pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam situasi atau suatu ketika ( 1988 : 165 ).
Menurut Susanto dalam Tarigan (1984 : 176), cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.Sementara itu, Sumardjo dan Saini (1997 : 37) mengatakan bahwa cerita pendek adalah cerita atau parasi (bukan analisis argumentatif) yang fiktif (tidak benar-benar terjadi tetapi dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, serta relatif pendek).
Dari beberapa pendapat di atas penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan cerita pendek adalah karangan nasihat yang bersifat fiktif yang menceritakan suatu peristiwa dalam kehidupan pelakunya relatif singkat tetapi padat.
Ciri-ciri Cerita Pendek
Sebagai sebuah karya sastra berbentuk prosa naratif, cerpen tentu saja memiliki unsur intrinsik yang sama dengan karya sastra lainnya. Namun, di samping unsur intrinsik tersebut, cerpen memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan karya sastra bentuk prosa naratif lainnya. Adapun yang menjadi ciri khusus cerpen, di antaranya sebagai beikut.
1.      Isinya cenderung kurang kompleks
2.      Fokus cerita terpusat pada satu kejadian
3.      Hanya menggunakan satu alur cerita yang rapat
4.      Tokoh dalam cerpen sangat terbatas dan diulas secara sekilas
5.      Setting yang digunakan biasanya tunggal
6.      Tempo waktunya relatip pendek
7.      Menampilkan konflik yang tidak menimbulkan perubahan nasib pada tokohnya.
Membuat Kerangka
Ada juga kerangka karangan yang sangat mendasar, terutama digunakan untuk membuat karangan yang pendek, seperti:
1.      Tema karangan.
2.      Pembukaan, kita mulai dengan memperkenalkan berbagai penokohan pada cerita.
3.      Isu cerita dimulai dari semua permasalahan pada keseluruhan cerita.
4.      Penutup pada posisi ini menjelaskan tentang bagaiman akhir dari cerita tersebut.
5.      Tujuan karangan (deskripsi, narasi, argumentasi, eksposisi atau persuasi).
6.      Pemilihan bahan materi yag sesuai degan tema
7.      Kerangka (garis besar/pokok2 pikiran sebanyak2nya spt adanya pikiran utama & pikiran penjelas).
8.      Mengembangkan karangka menjadi karangan.
9.      Mengedit.

Dan berikut ini adalah beberapa hal yang harus anda perhatikan dalam cerpen.
1.      Tema
Setiap tulisan harus memiliki pesan atau arti yang tersirat di dalamnya. Sebuah tema adalah seperti sebuah tali yang menghubungkan awal dan akhir cerita dimana Anda menggantungkan alur, karakter, setting cerita dan lainnya. Ketika Anda menulis, yakinlah bahwa setiap kata berhubungan dengan tema ini.
2.      Tempo Waktu
Cerita dalam sebuah cerpen yang efektif biasanya menampilkan sebuah tempo waktu yang pendek. Hal ini bisa berupa satu kejadian dalam kehidupan karakter utama Anda atau berupa cerita tentang kejadian yang berlangsung dalam sehari atau bahkan satu jam. Dan dengan waktu yang singkat itu, usahakan agar kejadian yang Anda ceritakan dapat memunculkan tema Anda.
3.      Setting
Karena Anda hanya memiliki jumlah kata-kata yang terbatas untuk menyampaikan pesan Anda, maka Anda harus dapat memilih setting cerita dengan hati-hati. Disini berarti bahwa setting atau tempat kejadian juga harus berperan untuk turut mendukung jalannya cerita. Hal itu tidak berarti Anda harus selalu memilih setting yang tipikal dan mudah ditebak. Sebagai contoh, beberapa setting yang paling menakutkan bagi sebuah cerita seram bukanlah kuburan atau rumah tua, tapi tempat-tempat biasa yang sering dijumpa pembaca dalam kehidupan sehari-hari mereka. Buatlah agar pembaca juga seolah-olah merasakan suasana cerita lewat setting yang telah dipilih tadi.
4.      Penokohan
Untuk menjaga efektivitas cerita, sebuah cerpen cukup memiliki sekitar tiga tokoh utama saja, karena terlalu banyak tokoh malah bisa mengaburkan jalan cerita Anda. Jangan terlalu terbawa untuk memaparkan sedetail-detailnya latar belakang tiap tokoh tersebut. Tentukan tokoh mana yang paling penting dalam mendukung cerita dan fokuskan diri padanya. Jika Anda memang jatuh cinta pada tokoh-tokoh Anda, pakailah mereka sebagai dasar dalam novel Anda kelak.
5.      Dialog
Jangan menganggap enteng kekuatan dialog dalam mendukung penokohan karakter Anda, sebaliknya dialog harus mampu turut bercerita dan mengembangkan cerita Anda. Jangan hanya menjadikan dialog hanya sebagai pelengkap untuk menghidupkan tokoh Anda. Tiap kata yang ditaruh dalam mulut tokoh-tokoh Anda juga harus berfungsi dalam memunculkan tema cerita. Jika ternyata dialog tersebut tidak mampu mendukung tema, ambil langkah tegas dengan menghapusnya.
6.      Alur
Buat paragraf pembuka yang menarik yang cukup membuat pembaca penasaran untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Pastikan bahwa alur Anda lengkap, artinya harus ada pembukaan, pertengahan cerita dan penutup. Akan tetapi, Anda juga tidak perlu terlalu berlama-lama dalam membangun cerita, sehingga klimaks atau penyelesaian cerita hanya muncul dalam satu kalimat, dan membuat pembaca merasa terganggu dan bingung dalam artian negatif, bukannya terpesona. Jangan pula membuat “twist ending” (penutup yang tak terduga) yang dapat terbaca terlalu dini, usahakan supaya pembaca tetap menebak-nebak sampai saat-saat terakhir.
7.      Baca ulang
Pembaca dapat dengan mudah terpengaruh oleh format yang tidak rapi, penggunanaan tanda baca dan tata bahasa yang salah. Jangan biarkan semua itu mengganggu cerita Anda, selalu periksa dan periksa kembali.

Contoh :
Tajug Nadhoman
Dari udara yang menyembur dari kedalaman rongga mulut, Jumadi menghela nafas sedalam mungkin. Dari dalam perut yang tak bisa mengharap kesabaran lanjut. Setelah matahari mencapai pecat sawed, Jumadi tak mendapati seorang pun datang ke tajug biasa adanya pangaosan nadhoman.
Setiap hari rabu, kampung Cireuleu akan hangat oleh nadhoman yang dibacakan kaum tua. Kaum yang mengharapkan kemaslahatan akhirat lebih dari kaum muda. Tapi kaum tua satu persatu tumpur, hilang masuk ke dalam bumi, kemudian tidak berganti dengan generasi selanjutnya. Dan hari ini adalah hari Rabu. Hari di mana para tua bersimpuh. Perempuan tua mengenakan samping. Bubututan ala kadarnya, dan kerudung tipis di kepalanya. Sedang para bapak akan datang dengan batik atau koko, sarung, kopeah, dan sebungkus bako lengkap dengan pahpir daun kawung. Tajug masih kosong. Jumadi membuka lagi ingatan yang telah menumpuk. Sejak kedatangannya kembali ke kempung ini, tanah kelahiran yang lama ia tinggalkan, bersama istri dan dua anaknya, Iman Suherman dan Sri Rahayu, Jumadi membuka lahan kecil di samping rumahnya.
            Dulu itu kebun paling banyak menghasilkan jagong, sampeu, dan juga beberapa samara dapur. Kata bapaknya dulu, ketika ia masih jumeneng, jika kita ingin menyedekahkan dengan pahala yang belipat ganda, sedekahkanlah sesuatu yang paling kita cintai. Dan Jumadi mencintai kebun itu sebagai tonggak pialang untuk Jumadi hidup. Sebenarnya istri Jumadi –Nurkumalasari, tidak setuju kebon itu dijadikan tajug. Sebagai lahan paling produktif, tentunya sangat berat melepaskan itu semua. “Mau makan apa kita nanti, Akang? “Rizki itu ada di tangan gusti Allah, Nur. Kita kan masih punya sawah di leuwi tiga puluh tumbak. Itu lebih cukup dari makan kita.dan menjamu warga yang datang ke pangaosan nanti” Nur tidak bisa lagi bicara. Yang ia lakukan hanya bisa berdoa untuk kemaslahatan bersama.
            Masyarakat dan keluarganya.Pertama kali ia datang ke kampung itu, masyarakat kampung Cireuleu ini jauh dari jalan kelurusan. Segala peningalan leluhur masih mengakar kuat. Jangjawokan, nyupang, ngamat, masih saja menjadi kehidupan sehari-hari. Sesajen setiap panen dan tanam padi masih saja ada. Tapi, lambat laun, Jumadi dengan sabar membimbing mereka ke arah yang diridoi Allah. Tak jarang, untuk membimbing mereka Jumadi merelakan beras di goah dibagikan pada masyarakat yang ikut pengajian Nasi kuning, telor rebus, daging suwir, kerupuk, mie bihun, sambel, dan juga lalapan alakadarnya. Juga dengan jangjawokan.
            Dengan perjuangan yang sulit, melawan arus adat istiadat, Jumadi membawa nadhoman. Jumadi mengajarkan mereka nadhoman seminggu sekali. Di hari rabu. Pukul tujuh hingga pukul setengah sembilan. Sedikit menyisihkan waktu dari waktunya menuju sawah.
Setelah mendapat rizki dari panennya yang sukses, Jumadi membeli sebuah speaker sederhana yang bisa menjangkau sekampung Cireuleu. Pertamanya merasa terganggu dengan adanya pengeras suara itu, tapi akhirnya, lagu nadhoman bisa menarik perhatian mereka untuk sejenak menyisihkan waktu untuk bertemu dengan Allah. Hingga akhirnya, nadhoman melekat di hati masyarat dan memberikan warna tersendiri dari tajug itu. Orang-orang pun menamakan tajug itu sebagai tajug nadhoman.
Karena dari tajug itulah mereka mengenal nadhoman. Jumadi dan istrinya setiap kali pengajian reboan, mereka memasak makanan alakadarnya. Yang lebih banyak dari bisaanya. Tumpeng, bolocot, tutug oncom dan juga sambal dan lalabnya, surawung, daun sampeu, dan juga irisan bonteng. Terkadang leupeut dan gorengan, bugis, kicimpring, dan makanan kampung lainnya. Alangkah bahagianya Jumadi melihat semua itu. Usahanya untuk mengislamkan umat Islam itu telah mendapatkan titik terang dari Allah. Walaupun terkadang ia harus merasa kenyang dengan nadhoman yang menggema ke seluruh pojok kampung saja.Tapi setelah hujan menjadi hal yang langka. Wabah merajalela. Tikus menggasak semua pare mereka. Tanah tandus. Air hilang. Udara panas. Ladang dan sawah terbengkalai. Kelaparan menerjang. Satu persatu para tua mati. Kuburan menjadi begitu banyak. Istigasah telah berulangkali di kumandangkan, tapi seolah Allah tak menghiraukan, setelah kebaikan yang mereka mulai. Maka orang kambali berpikir.
Pada sesajen. Jangjawokan. Ngamat. Kembali kehilangan ruh Allah. Orang jarang pergi lagi berjamaah. Pengajian kosong. Satu persatu dari mereka mundur untuk duduk bersimpuh pada Allah. Tajug kembali lagi berdebu. Masyarakat kampung lupa entah melupakan dirinya. Setelah para tua meningal, dan sebagian meninggalkan, kini tinggallah Jumadi sendiri. Jumadi sering duduk sendiri di papangge tajug. Melempar pandangan pada hamparan sawah yang tandus, kering, tanpa padi. Ada beberapa orang melintas di galengan membawa tapian berisi makanan pakaulan. Pakaulan yang kembali pada patekong. Kemarau kepanjangan ini membuat anak-anak kecil malas tadarusan. Yang sedikit dewasa mencari pohon uang di kota. Mencoba memetik lembaran-lembaran uang, yang katanya di kota lebih mudah dari pada di kampung. Kampung menjadi sepi. Orang hilang dan meninggalkan kampung. Juga tajug nadhoman. Siang Rabu itu, waktu pecat sawed, Jumadi dan istrinya duduk-duduk di papangge tajug. Iman tertidur di dalam tajug, sedangkan Sri tertidur dalam siaran ibunya. Jumadi menatap kosong pada sawah. Istrinya tidak tahu apa yang dipikirkan suaminya. Nur membawa Sri masuk tajug, agar tidur bersama kakaknya di dalam.
Nur keluar lagi, duduk kembali di samping suaminya. Dengan kesabaran, Nur menyentuh bahu Jumadi, lalu meletakkan kepalanya di bahu suaminya. Jumadi masih terdiam. Kopiah yang miring diambil Nur. Disimpannya di sisilain Jumadi. Jumadi akhirnya melempar pandangan pada istrinya itu. Nur tersenyum membalas tatapan suaminya.   Lama pandangan Jumadi hinggap di senyuman itu. Jumadi berpikir, hanya senyum itu saja yang selalu menguatkan tajug ini berdiri. Senyum istrinyalah yang menyuburkan hari-harinya dalam berdakwah di kampung itu. Jumadi menghela nafas panjang. Mengulur kesabaran yang sudah menjualang terulur pada arasy Tuhan. Lalu Jumadi dan istrinya mendendangkan nadhoman beberapa bait.

V.                Sumber
  1. Surat Kabar  
  2. Buku Paket: Berbahasa dan Bersastra Indonesia kelas IX Semester I. Penerbit: Pusat Perbukuan DEPDIKNAS.
  3. Buku Kumpulan Cerpen
           
VI.             Penilaian
Teknik
Bentuk
Instrumen/Soal
Penugasan
Tugas
1.      Tulislah ide-ide pokok cerpen sesuai alasannya


2.      Kembangkan ide-ide pokok menjadi cerpen dengan kalimat sendiri


3.      Tentukan alur cerpen!



Pedoman Penilaian:
No
Aspek yang Dinilai
Skor
1
Ide pokok dalam cerpen
40
2
Pengembangan ide pokok
30
3
Alur cerpen
30

Perhitungan nilai akhir dalam skala 0-100 adalah sebagai berikut:
Nilai akhir :                                Skor ideal 100% = …..

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Catat Ulasan